Kepada segenap pembaca Blog ACI, kami informasikan bahwa acara "Ramadhan Special dari & untuk Anak Special" yg rencananya akan diselenggarakan pada 31/08 karena satu & lain hal, acara ditunda pelaksanaannya sampai batas waktu yang tidak ditetukan. Demikian harap maklum adanya

Kamis, 12 Agustus 2010

Ratusan Warga Ikuti Training Anak Autis

                                                                                                                          TRIBUN NEWS
Sabtu, 7 Agustus 2010 | 12:19 WIB
TRIBUN-MEDAN.com. JAKARTA - Lebih dari 300 warga yang terdiri dari orang tua anak berkebutuhan khusus, para terapis, guru pembimbing khusus, mahasiswa, dan warga lainnya, Sabtu (7/8/2010), mulai mengikuti pelatihan dan seminar tentang penanganan anak berkebutuhan khusus .
Acara yang digelar Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) ini merupakan wujud keprihatinan mereka mengenai minimnya para tenaga pendidik khusus atau terapis, maupun tenaga penunjang profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik.

Ketua Pembina YCHI, Zulfikar Alimudin, mengatakan, saat ini permintaan jumlah tenaga terapis dan pendidik anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sangat besar. "Tidak berimbangnya terapis dengan kian banyaknya jumlah anak autis membuat terapis sangat dicari,” kata Zulkarnain.

Dijelaskan Zufikar, pihaknya sengaja menggandeng Dinas Pendidikan dalam penyelenggaraan bertajuk National Series Training & Workshop For Special Teacher ini agar nantinya mampu berperan serta menjawab minimnya angka trainer yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Selain menghadirkan banyak tokoh pakar autisme seperti Frieda Mangungsong (pakar anak berkebutuhan khusus), Dyah Puspita (psikolog) Adre Mayza (Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan Kementerian Kesehatan) dan lainnya, acara ini juga menghadirkan beragam stan alat peraga dan mainan edukasi bagi anak penyandang autis.

Tribun Medan
Kompas Gramedia

Ratusan Orangtua Anak Autis Ikut Training

Tribunnews.com - Sabtu, 7 Agustus 2010 11:54 WIB
  +
Alat-peraga.jpg
tribunnews.com/alie usman
ALAT PERAGA --- Beberapa alat peraga dan permainan untuk anak berkebutuhan khusus.
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Lebih dari 300 warga yang terdiri dari orang tua anak berkebutuhan khusus, para terapis, guru pembimbing khusus, mahasiswa, dan warga lainnya hari ini mulai mengikuti pelatihan dan seminar tentang penanganan anak berkebutuhan khusus.

Acara yang digelar Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) tersebut merupakan wujud keprihatinan mereka mengenai minimnya para tenaga pendidik khusus atau terapis, maupun tenaga penunjang profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik.

Zulfikar Alimudin, Ketua Pembina YCHI mengatakan, saat ini permintaan jumlah tenaga terapis dan pendidik anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan minimnya jumlah tenaga terapis itu sendiri.

"Tidak berimbangnya tenaga pendidik atau terapis tersebut dengan kian banyaknya jumlah anak autis yang ada ini yang kemudian membuat terapis sangat dicari dan tentu saja mahal," ujar Zul, saat menggelar jumpa pers, di Auditorium gedung D Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Sabtu (7/8/2010).

Zulfikar mengatakan, pihaknya sengaja menggandeng Dinas Pendidikan dalam penyelenggaraan bertajuk National series training & workshop for special teacher tersebut agar nantinya mampu berperan serta menjawab minimnya angka trainer yang saat ini dibutuhkan masyarakat.

Selain menghadirkan banyak tokoh yang merupakan pakar autisme seperti Frieda Mangungsong (pakar anak berkebutuhan khusus), Dyah Puspita (psikolog) Adre Mayza (Kepala pusat intelegensia kesehatan Kementerian Kesehatan) dan lainnya.

Acara yang digelar dua hari ini juga menghadirkan beragam stan alat peraga dan mainan edukasi bagi anak penyandang autis.

Pengobatan Autis Mahal karena Jumlah Terapis Minim

Tribunnews.com - Sabtu, 7 Agustus 2010 15:21 WIB
  +
autism1.jpg
Ist
Ilustrasi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Data Autism Care Indonesia mengatakan, satu dari seratus anak Indonesia usia 0- 12 tahun merupakan penyandang autisme. Mereka mengatakan, data yang didapat dari tahun ke tahun menunjukan adanya peningkatan pesat jumlah penyandang autis di Indonesia.

Sayangnya, peningkatan jumlah penderita autis di Indonesia tidak serta merta dibarengi dengan banyaknya tenaga terapis yang profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik dalam membimbing dan mengajar anak-anak autis itu.

Kenyataan tersebut yang lantas membuat mahalnya biaya pengobatan dan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Untuk 90 menit hingga 120 menit pertemuan dengan tenaga terapis, masyarakat harus merogoh kocek antara 100 ribu hingga 150 ribu rupiah.

Hal tersebut tentu saja sangat mahal lantaran dalam satu hari, idealnya mereka bertemu terapis tiga sampai empat kali pertemuan. Jika dihitung 100 ribu rupiah misalnya, maka dalam satu hari, dibutuhkan 300 sampai 400 ribu rupiah.

Dan jika dihitung satu bulan dengan frekuensi pertemuan hampir tiap hari, maka orang tua yang anaknya mengidap autis harus membayar sekitar 9 juta rupiah tiap bulan.

Itu juga belum lagi biaya obat-obatan, alat-alat peraga dan perangsang anak, sampai biaya konsultasi kepada ahli. Untuk sekali konsultasi saja bisa mencapai 500-1 juta rupiah jika konsul ke ahli kenamaan.

Zulfikar Alimudin, Ketua Pembina YCHI, mengatakan, selain lantaran jumlah Terapis sedikit dan terlanjur minim, biaya pelatihan dan edukasi bagi calon pelatih dan terapis tersebut juga sangat mahal.

"Persoalan ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Minimnya para Tenaga terapis merupakan masalah yang tidak ringan. Karenanya kami berharap dengan pelatihan dan seminar seperti ini dapat meningkatkan kualitas para trainer muda dalam mengembangkan tenaga pendidik yang kompetensi dan kualifait," ujar Budi.

Indonesia masih Kekurangan Tenaga Terapis ABK




Ketua Pembina YCHI, Zulfikar Alimudin. (Foto: RP/satuNews)


Sabtu, 07 Agustus 2010 | 19:34
JAKARTA- Jumlah tenaga terapis tidak sebanding dengan besarnya jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang ada saat ini. Menyikapi kondisi tersebut Autism Care Indonesia (ACI) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan Pelatihan National Series Training & Work shop for Special Teacher dengan tema “The Best Technique To the Best Treatment” selama 2 (dua) hari di Jakarta.

“Kita melakukan program secara bertahap, pada tahap awal kita melakukan treatment. Setelah ada kekuatan lebih kita lakukan asesmen yang lebih holistic. Saat ini kita sedang kembangkan familiy care program supaya kita bisa membantu keluarga dari aspek-aspek yang lain, terutama aspek kesehatan,”kata Ketua Pembina YCHI, Zulfikar Alimudin di Jakarta, Sabtu (7/8).

Family Care Program kata dia, dikembangkan untuk memfasilitasi para orang tua agar terdorong mencari pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Bantuan yang diberikan haruslah komplit. Kedepan nya akan dibangun kesadaran yang tinggi kepada masyarakat. YCHI kini telah menyasar para mahasiswa untuk menjadi tenaga terapis.

Menurut Dirjen, Mandik Dasmen Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto Pemerintah saat ini masih berkutat soal per PNS -an guru-guru honorer. Kuncinya kata dia, pemerintah memerlukan biaya yang luar biasa. Pemerintah harus mengalokasikan dana sebesar Rp 60 triliun untuk membayar gaji guru yang sudah professional yang kesemuanya berjumlah 2,6 juta.

Untuk mengatasi permasalahan anak-anak autis peran masyarakat menjadi sangat besar. Pasalnya anak-anak autis tidak bisa serta merta bisa dilayani dengan kurikulum seperti di sekolah-sekolah normal. Untuk itu sebenarnya dapat dikreat dari masyarakat. Pemerintah kata nya telah menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang, seperti buku-buku braile, alat-alat peraga atau laboratorium. “Dana pendidikan sudah banyak tetapi kurang nya juga banyak,”pungkas nya.

Pemerintah kata dia, telah melibatkan para siswa-siswa ABK pada kegiatan semisal Olimpiade Sains Nasional dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Bahkan saat ini telah berdiri sejumlah sentra-sentra ketrampilan di sekolah-sekolah tertentu agar nantinya mereka dapat mandiri.
Sementara itu ACI merilis jumlah anak penyandang cacat di Indonesia berkisar lebih dari 500 ribu anak dan sebagaian dari mereka berasal dari golongan keluarga yang tidak mampu.

Peserta
Pelatihan tenaga terapis angakatan 1 (pertama) ini diikuti sebanyak 300 orang peserta yang terdiri dari orang tua ABK, terapis, guru pembimbing khusus, para praktisi pendidikan inklusi, mahasiswa dan pemerhati pendidikan dini. Diharapkan nanti nya mereka mendapatkan pengetahuan, dan keterampilan. (RP)
Keterangan Foto:
 
Powered by Blogger