Kepada segenap pembaca Blog ACI, kami informasikan bahwa acara "Ramadhan Special dari & untuk Anak Special" yg rencananya akan diselenggarakan pada 31/08 karena satu & lain hal, acara ditunda pelaksanaannya sampai batas waktu yang tidak ditetukan. Demikian harap maklum adanya
Tampilkan postingan dengan label Berita terkini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita terkini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Agustus 2010

Minim, tenaga terapis bagi anak autis

Tanggal09 Aug 2010
SumberHarian Terbit
JAKARTA - Ketua Pembina Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI), Zulfikar Alimudin mengungkapkan, jumlah tenaga terapis yang menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk penyandang autis masih minim. Data Autisme Care Indonesia (ACI) menunjukan satu dari seratus anak Indonesia usia 0 - 12 tahun merupakan penyandang autis.

"Data yang didapat dari tahun ke tahun menunjukan adanya peningkatan pesat jumlah penyandang autis di Indonesia. Sayangnya, peningkatan jumlah penderita autis di Indonesia tidak serta merta dibarengi dengan ketersediaan tenaga terapis yang professional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik dalam membimbing dan mengajar anak-anak autis," kata Zulfikar di sela pelatihan National Series Training & Workshop for Special Teacher dengan tema "The Best Technique To the Best Treatment"  7-8 Agustus, kemarin.

Menurutnya, persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.Kenyataan ini membuat biaya pengobatan dan terapi bagi ABK di Indonesia menjadi mahal. Sebagai gambaran biaya anak penyandang autis sekali pertemuan selama 90 hingga 120 menit dengan tenaga terapis, harus merogoh kocek antara Rp100.000 hingga Rp150.000.

"Ini sangat mahal lantaran dalam satu hari, idealnya mereka bertemu terapis tiga sampai empat kali pertemuan. Jika dihitung Rp100.000 saja misalnya, maka dalam satu hari, dibutuhkan Rp300.000 sampai Rp400.00. Biaya tersebut belum termasuk biaya obat-obatan, alat-alat peraga dan biaya perangsang anak," jelasnya.

Dengan perhitungan itu,katanya, dalam satu bulan dengan jumlah pertemuan setiap hari, maka orangtua harus membayar sedikitnya Rp9 juta. Pertemuan itu juga tidak cukup dalam satu atau hitungan bulan, namun penanganan ini dilakukan bertahun-tahun. Coba bayangkan berapa besar biaya yang dikeluarkan. Untuk itu, YCHI berinisiatif  memberikan pelayanan gratis bagi penyandang ABK.

Dirjen Mandikdasmen Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto mengatakan, untuk mengatasi permasalahan anak-anak autis peran masyarakat menjadi sangat besar. Pasalnya anak-anak autis tidak bisa serta merta dilayani dengan kurikulum seperti sekolah-sekolah normal.

"Untuk itu sebenarnya dapat diciptakan dari masyarakat, Pemerintah telah menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang, seperti buku-buku braile, alat-alat peraga atau laboratorium," ujarnya.

Pemerintah, katanya, telah melibatkan para siswa-siswa ABK pada kegiatan semisal Olimpiade Sains Nasional dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Bahkan saat ini telah berdiri sejumlah sentra-sentra ketrampilan di sekolah-sekolah tertentu agar nantinya mereka dapat mandiri. (fitri)

Ratusan Warga Ikuti Training Anak Autis

                                                                                                                          TRIBUN NEWS
Sabtu, 7 Agustus 2010 | 12:19 WIB
TRIBUN-MEDAN.com. JAKARTA - Lebih dari 300 warga yang terdiri dari orang tua anak berkebutuhan khusus, para terapis, guru pembimbing khusus, mahasiswa, dan warga lainnya, Sabtu (7/8/2010), mulai mengikuti pelatihan dan seminar tentang penanganan anak berkebutuhan khusus .
Acara yang digelar Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) ini merupakan wujud keprihatinan mereka mengenai minimnya para tenaga pendidik khusus atau terapis, maupun tenaga penunjang profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik.

Ketua Pembina YCHI, Zulfikar Alimudin, mengatakan, saat ini permintaan jumlah tenaga terapis dan pendidik anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sangat besar. "Tidak berimbangnya terapis dengan kian banyaknya jumlah anak autis membuat terapis sangat dicari,” kata Zulkarnain.

Dijelaskan Zufikar, pihaknya sengaja menggandeng Dinas Pendidikan dalam penyelenggaraan bertajuk National Series Training & Workshop For Special Teacher ini agar nantinya mampu berperan serta menjawab minimnya angka trainer yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Selain menghadirkan banyak tokoh pakar autisme seperti Frieda Mangungsong (pakar anak berkebutuhan khusus), Dyah Puspita (psikolog) Adre Mayza (Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan Kementerian Kesehatan) dan lainnya, acara ini juga menghadirkan beragam stan alat peraga dan mainan edukasi bagi anak penyandang autis.

Tribun Medan
Kompas Gramedia

Ratusan Orangtua Anak Autis Ikut Training

Tribunnews.com - Sabtu, 7 Agustus 2010 11:54 WIB
  +
Alat-peraga.jpg
tribunnews.com/alie usman
ALAT PERAGA --- Beberapa alat peraga dan permainan untuk anak berkebutuhan khusus.
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Lebih dari 300 warga yang terdiri dari orang tua anak berkebutuhan khusus, para terapis, guru pembimbing khusus, mahasiswa, dan warga lainnya hari ini mulai mengikuti pelatihan dan seminar tentang penanganan anak berkebutuhan khusus.

Acara yang digelar Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) tersebut merupakan wujud keprihatinan mereka mengenai minimnya para tenaga pendidik khusus atau terapis, maupun tenaga penunjang profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik.

Zulfikar Alimudin, Ketua Pembina YCHI mengatakan, saat ini permintaan jumlah tenaga terapis dan pendidik anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan minimnya jumlah tenaga terapis itu sendiri.

"Tidak berimbangnya tenaga pendidik atau terapis tersebut dengan kian banyaknya jumlah anak autis yang ada ini yang kemudian membuat terapis sangat dicari dan tentu saja mahal," ujar Zul, saat menggelar jumpa pers, di Auditorium gedung D Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Sabtu (7/8/2010).

Zulfikar mengatakan, pihaknya sengaja menggandeng Dinas Pendidikan dalam penyelenggaraan bertajuk National series training & workshop for special teacher tersebut agar nantinya mampu berperan serta menjawab minimnya angka trainer yang saat ini dibutuhkan masyarakat.

Selain menghadirkan banyak tokoh yang merupakan pakar autisme seperti Frieda Mangungsong (pakar anak berkebutuhan khusus), Dyah Puspita (psikolog) Adre Mayza (Kepala pusat intelegensia kesehatan Kementerian Kesehatan) dan lainnya.

Acara yang digelar dua hari ini juga menghadirkan beragam stan alat peraga dan mainan edukasi bagi anak penyandang autis.

Pengobatan Autis Mahal karena Jumlah Terapis Minim

Tribunnews.com - Sabtu, 7 Agustus 2010 15:21 WIB
  +
autism1.jpg
Ist
Ilustrasi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Data Autism Care Indonesia mengatakan, satu dari seratus anak Indonesia usia 0- 12 tahun merupakan penyandang autisme. Mereka mengatakan, data yang didapat dari tahun ke tahun menunjukan adanya peningkatan pesat jumlah penyandang autis di Indonesia.

Sayangnya, peningkatan jumlah penderita autis di Indonesia tidak serta merta dibarengi dengan banyaknya tenaga terapis yang profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik dalam membimbing dan mengajar anak-anak autis itu.

Kenyataan tersebut yang lantas membuat mahalnya biaya pengobatan dan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Untuk 90 menit hingga 120 menit pertemuan dengan tenaga terapis, masyarakat harus merogoh kocek antara 100 ribu hingga 150 ribu rupiah.

Hal tersebut tentu saja sangat mahal lantaran dalam satu hari, idealnya mereka bertemu terapis tiga sampai empat kali pertemuan. Jika dihitung 100 ribu rupiah misalnya, maka dalam satu hari, dibutuhkan 300 sampai 400 ribu rupiah.

Dan jika dihitung satu bulan dengan frekuensi pertemuan hampir tiap hari, maka orang tua yang anaknya mengidap autis harus membayar sekitar 9 juta rupiah tiap bulan.

Itu juga belum lagi biaya obat-obatan, alat-alat peraga dan perangsang anak, sampai biaya konsultasi kepada ahli. Untuk sekali konsultasi saja bisa mencapai 500-1 juta rupiah jika konsul ke ahli kenamaan.

Zulfikar Alimudin, Ketua Pembina YCHI, mengatakan, selain lantaran jumlah Terapis sedikit dan terlanjur minim, biaya pelatihan dan edukasi bagi calon pelatih dan terapis tersebut juga sangat mahal.

"Persoalan ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Minimnya para Tenaga terapis merupakan masalah yang tidak ringan. Karenanya kami berharap dengan pelatihan dan seminar seperti ini dapat meningkatkan kualitas para trainer muda dalam mengembangkan tenaga pendidik yang kompetensi dan kualifait," ujar Budi.

Indonesia masih Kekurangan Tenaga Terapis ABK




Ketua Pembina YCHI, Zulfikar Alimudin. (Foto: RP/satuNews)


Sabtu, 07 Agustus 2010 | 19:34
JAKARTA- Jumlah tenaga terapis tidak sebanding dengan besarnya jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang ada saat ini. Menyikapi kondisi tersebut Autism Care Indonesia (ACI) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan Pelatihan National Series Training & Work shop for Special Teacher dengan tema “The Best Technique To the Best Treatment” selama 2 (dua) hari di Jakarta.

“Kita melakukan program secara bertahap, pada tahap awal kita melakukan treatment. Setelah ada kekuatan lebih kita lakukan asesmen yang lebih holistic. Saat ini kita sedang kembangkan familiy care program supaya kita bisa membantu keluarga dari aspek-aspek yang lain, terutama aspek kesehatan,”kata Ketua Pembina YCHI, Zulfikar Alimudin di Jakarta, Sabtu (7/8).

Family Care Program kata dia, dikembangkan untuk memfasilitasi para orang tua agar terdorong mencari pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Bantuan yang diberikan haruslah komplit. Kedepan nya akan dibangun kesadaran yang tinggi kepada masyarakat. YCHI kini telah menyasar para mahasiswa untuk menjadi tenaga terapis.

Menurut Dirjen, Mandik Dasmen Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto Pemerintah saat ini masih berkutat soal per PNS -an guru-guru honorer. Kuncinya kata dia, pemerintah memerlukan biaya yang luar biasa. Pemerintah harus mengalokasikan dana sebesar Rp 60 triliun untuk membayar gaji guru yang sudah professional yang kesemuanya berjumlah 2,6 juta.

Untuk mengatasi permasalahan anak-anak autis peran masyarakat menjadi sangat besar. Pasalnya anak-anak autis tidak bisa serta merta bisa dilayani dengan kurikulum seperti di sekolah-sekolah normal. Untuk itu sebenarnya dapat dikreat dari masyarakat. Pemerintah kata nya telah menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang, seperti buku-buku braile, alat-alat peraga atau laboratorium. “Dana pendidikan sudah banyak tetapi kurang nya juga banyak,”pungkas nya.

Pemerintah kata dia, telah melibatkan para siswa-siswa ABK pada kegiatan semisal Olimpiade Sains Nasional dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Bahkan saat ini telah berdiri sejumlah sentra-sentra ketrampilan di sekolah-sekolah tertentu agar nantinya mereka dapat mandiri.
Sementara itu ACI merilis jumlah anak penyandang cacat di Indonesia berkisar lebih dari 500 ribu anak dan sebagaian dari mereka berasal dari golongan keluarga yang tidak mampu.

Peserta
Pelatihan tenaga terapis angakatan 1 (pertama) ini diikuti sebanyak 300 orang peserta yang terdiri dari orang tua ABK, terapis, guru pembimbing khusus, para praktisi pendidikan inklusi, mahasiswa dan pemerhati pendidikan dini. Diharapkan nanti nya mereka mendapatkan pengetahuan, dan keterampilan. (RP)
Keterangan Foto:

Terapis Autis Di Dunia Sangat Minim

Oleh : Pratama
Jakarta, MediaProfesi.com – Minimnya jumlah tenaga terapis yang menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk penyandang autis. Data Autisme Care Indonesia (ACI) dari Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) menunjukan satu dari seratus anak Indonesia usia 0 – 12 tahun merupakan penyandang autis .
Guna mendukung ketersedian Sumber Daya Manusia (SDM) dan memeberikan pemahaman dalam penanganan penyandang Autis di Indonesia, ACI bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan pelatihan National Series Training & Workshop for Special Teacher dengan tema “The Best Technique To the Best Treatment” selama 2 (dua) hari dari 7-8 Agustus, di Jakarta.
Zulfikar Alimudin, Ketua Pembina YCHI mengatakan, data yang didapat dari tahun ke tahun menunjukan adanya peningkatan pesat jumlah penyandang autis di Indonesia. “Sayangnya, peningkatan jumlah penderita autis di Indonesia tidak serta merta dibarengi dengan ketersediaan tenaga terapis yang professional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik dalam membimbing dan mengajar anak-anak autis,” kata Zulfikar di sela Workshop, Sabtu (7/8).
Lebih lanjut Zulfikar mengatakan, persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Kenyataan tersebut yang lantas membuat mahalnya biaya pengobatan dan terapi bagi ABK di Indonesia.
Dia menggambarkan besarnya biaya yang dikeluarkan oleh orang tua yang memupunyai anak penyandang autis. Untuk sekali pertemuan selama 90 hingga 120 menit dengan tenaga terapis, masyarakat harus merogoh kocek antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000.
Hal tersebut tentu saja sangat mahal lantaran dalam satu hari, idealnya mereka bertemu terapis tiga sampai empat kali pertemuan. Jika dihitung Rp 100.000 saja misalnya, maka dalam satu hari, dibutuhkan Rp 300.000 sampai Rp 400.00. Biaya tersebut belum termasuk biaya obat-obatan, alat-alat peraga dan biaya perangsang anak.
Berarti dalam satu bulan dengan jumlah pertemuan setiap hari, maka orang tua harus membayar sedikitnya Rp 9 juta tiap bulan. “Pertemuan ini tidak cukup dalam satu atau hitungan bulan, namun penanganan ini dilakukan bertahun-tahun. Coba bayangkan berapa besar biaya yang dikeluarkan,” ujar Zulfikar.
Karena besarnya biaya yang dikeluarkan orang tua, dan penyakit ini menimpa siapa saja, baik golongan atas maupun kelas bawah sekalipun. “Untuk itu, YCHI memberikan pelayanan gratis bagi penyandang ABK,” tegasnya.
Menurut Dirjen, Mandik Dasmen Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto mengatakan, untuk mengatasi permasalahan anak-anak autis peran masyarakat menjadi sangat besar. Pasalnya anak-anak autis tidak bisa serta merta dilayani dengan kurikulum seperti sekolah-sekolah normal.
“Untuk itu sebenarnya dapat diciptakan dari masyarakat, Pemerintah telah menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang, seperti buku-buku braile, alat-alat peraga atau laboratorium,” katanya.
Pemerintah tambah Dia, telah melibatkan para siswa-siswa ABK pada kegiatan semisal Olimpiade Sains Nasional dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Bahkan saat ini telah berdiri sejumlah sentra-sentra ketrampilan di sekolah-sekolah tertentu agar nantinya mereka dapat mandiri. * (Pra/Syam)

Autisme Perlu, Pendidik Khusus Anak Autis

Senin, 9 Agustus 2010 | 18:56 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com- Anak-anak penyandang autis yang cenderung meningkat jumlahnya perlu mendapat perhatian secara serius dalam pendidikan. Namun, pendidikan yang mesti dijalankan secara khusus sesuai karateristik tiap anak butuh pendampingan pendidik khusus atau terapis yang masih terbatas jumlahnya.

Ketua Pembina Yayasan Cinta Harapan Indonesia atau Autism Care Indonesia Zulfikar Alimuddin dalam acara pelatihan tingkat nasional bagi guru pembimbing khusus di Jakarta mengatakan persoalan yang perlu diperhatikan adalah penanganan anak autis yang perlu perhatian khusus itu menjadi kendala bagi keluarga tidak mampu. Selain itu, tenaga pendidik khusus atau terpais yang ada tidak berimbang jumlahnya dengan penyandang autis sehingga mahal.

Zulfikar mengatakan, satu dari 100 anak Indonesia usia 0-12 tahun merupakan penyandang autisme. Di Indonesia, jumlah anak penyandang autis meningkat pesat. Dalam kisaran 500.000 anak Indonesia penyandang autis, sebagian berasal dari golongan keluarga tidak mampu.

Ref. Kompas.com

Senin, 05 Juli 2010

NASIONAL SERIES TRAINING & WORKSHOP Ang Ke-1


Tersedianya Tenaga Pendidik Khusus/Terapi maupun Tenaga Penunjang Profesional dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik untuk memberikan terapi dan pengajaran terbaik kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), saat ini dinilai masih minim sekali.

Belum berimbangnya tenaga terapis dengan jumlah anak kebutuhan khusus saat ini, menjadi masalah tersendiri dalam ranah penanganan autism di Indonesia. Minimnya ketersediaan tenaga terapis menjadikan tenaga terapis amat sangat dibutuhkan dan tentu saja mahal.

Dalam rangka mendukung ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam praktek penanganan ABK di Indonesia, Autism Care Indonesia merancang sebuah program pelatian yang bertajuk National Series Training & Workshop.

Tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut adalah untuk peningkatkan pengetahuan dan keterampilan para Orang Tua, Terapis, Tenaga Pendidik, Konselor terutama di daerah dalam memberikan pengajaran dan penanganan terbaik kepada ABK.

TUJUAN KEGIATAN

1. Mempersiapkan tenaga pengajar yang memiliki pengetahuan dan skill yang dibutuhkan di lapangan, terampil dalam memberikan penanganan ABK dengan berbagai variasinya.
2. Memberikan dukungan tenaga pendidik khusus (special teacher) dan tenaga penunjang profesional, dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik dalam memberikan terapi dan pengajaran terbaik kepada ABK.
3. meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para Orang Tua, Terapis & Calon Terapis, Tenaga Pendidik dan Konselor
4. Membuka akses kependidikan Anak berkebutuhan khusus di daerah lewat pelatihan guru dan sosialisasi penyelenggaraan sekolah inklusi.

PESERTA
1. Guru Pembimbing khusus (Terapis)
2. Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
3. Penyelenggara Sekolah Inklusi Dan Sekolah Khusus Autisma.
4. Mahasiswa Jurusan Pendidikan, Psikologi, Bimbingan & Konseling, Okupasi Terapi, Fisioterapi, Keperawatan, Kesejahteraan Masyarakat, dan jurusan yang relevan dengan keterapisan.
5. Pemerhati masalah Anak Berkebutuhan Khusus

FASILITATOR
1. Dr. Frieda Mangungsong, M.Ed. (Pakar Anak Berkebutuhan Khusus)
2. Dra. Dyah Puspita, MSi, psikolog, Penanggung Jawab Pendidikan Sekolah Khusus Autis Mandiga
3. Dr. Adre Mayza & Tim Pusat Intelegensia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
4. Adib Setiawan, M.Psi. (Psikolog & Praktisi Terapis Anak Berkebutuhan Khusus)
5. Tri Gunadi, A.Md.OT. S.Psi., S.Ked. (Praktisi Okupasi Terapi & Konsultan pengembangan ABK)
6. Prof Dr Mulyono Abdurrahman ( Dewan Pakar APPKhI, UNJ)

MATERI WORKSHOP
1. Model Program Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
2. Kemampuan Intelegensia Dasar Sekolah.
3. Individual Educational Program (IEP) dan Pengembangan Potensi ABK.
4. Membantu Orang Tua Menetapkan Penanganan Terbaik Bagi Anaknya yang Autistik.
5. Jenis-jenis ABK dan Bagaimana Intervensi Psikoedukasi
6. Terapi Sensori Integrasi & Okupasi Terapi


OUTPUT KEGIATAN
1. Pengenalan dasar tentang anak special need & model pendidikannya
2. Pengenalan dan praktek terapi Behaviour
3. Pengenalan dan praktek Kemampuan Intelegensia Dasar Sekolah
4. Pengenalan dan Penyusunan Individual Educational Program (IEP)
5. Pengenalan dan praktek terapi Okupasi
6. Pengenalan dan praktek terapi Sensori Integrasi

TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Gedung Kementerian Pendidikan RI Jl. Jenderal Sudirman Senayan, Jakarta 12041.
Sabtu- Minggu, 7-8 Agustus 2010.
Biaya Administrasi 100.000,-


SUSUNAN ACARA

HARI PERTAMA : SABTU, 7 AGUSTUS 2010

08.00 –09.00 : Registrasi
---------------------------------------------------------------------------------------------
09.00- 09.15 : Pembukaan
Sambutan Ketua Pembina YCHI
Oleh : Zulfikar Alimuddin
---------------------------------------------------------------------------------------------
09.15 – 10.00 : Grand Opening National Series Training & Workshop
Oleh : Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D (Wakil Menteri Pendidikan RI)*
---------------------------------------------------------------------------------------------
10.00 – 12.00 : Model Program Pendidikan ABK
Trainer : Prof. Dr. Mulyono Abdurrahman (Dewan Pakar APPKhI, UNJ)*
---------------------------------------------------------------------------------------------
12.00-13.00 : Lunch & Pentas Seni ABK
---------------------------------------------------------------------------------------------
13.00-15.00 : Kemampuan Intelegensia Dasar Sekolah
Trainner : Dr. Adre Mayza & Tim Pusat Intelegensia Kesehatan RI
---------------------------------------------------------------------------------------------
15.00 – 16.30 : Individual Educational Program (IEP) dan pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus
Trainer : Adib Setiawan, M.Psi. (Psikolog & Praktisi Terapis ABK)


HARI KEDUA : MINGGU, 8 AGUSTUS 2010

09.00-10.00 : Persiapan Acara
---------------------------------------------------------------------------------------------
10.00-12.00 :Membantu orangtua menetapkan penanganan terbaik bagi anaknya yang autistik
Trainer : Dra. Dyah Puspita, MSi, Psikolog, Penanggung Jawab Pendidikan Sekolah Khusus Autis Mandiga
---------------------------------------------------------------------------------------------
12.00-13.00 : Lunch & Pentas Seni ABK
---------------------------------------------------------------------------------------------
13.00 -15.00 : Jenis-jenis ABK dan Bagaimana Intervensi Psikoedukasi
Trainer : Dr. Frieda Mangungsong, M.Ed. (Pakar ABK)
---------------------------------------------------------------------------------------------
15.00-16.30 : Terapi Sensori Integrasi & Okupasi Terapi
Tri Gunadi, A.Md.OT. S.Psi., S.Ked. (Praktisi Okupasi Terapi &
Konsultan pengembangan ABK)

* Tentative

===============
Fasilitas Peserta

- Sertifikat
- Seminarkit
- Materi Kegiatan
- Makan Siang
- Coffe Break
===============
PENDAFTARAN

Silahkan Menghubungi:
Ida : 02175816178
Dhaud: 02197754096

SMS Only: 088210893591
Email Only: panitia@ychicenter.org

Untuk pendaftaran online silihkan klik link berikut :
http://www.123contactform.com/contact-form-sukasuka-78029.html


Transfer Biaya Administrasi Rp. 100,000
Ke. No. Rek. Bank BCA 6080316222
An. Yay Cinta Harapan Indonesia

Bukti Transfer Dikirim Ke :
No Fax. (021) 75816178
email : panitia@ychicenter.org

AUTISM CARE INDONESIA
free autism treatment for unfortunate
YAYASAN CINTA HARAPAN INDONESIA(YCHI)
Jl. H. Saikin No. 2 Rt. 014 / 08, Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telepon : (021) 7581 6178, 9372 4536 / Fax : (021) 7581 6178
website : www.ychicenter.org e-mail : klinik@ychicenter.org

Selasa, 15 Juni 2010

Mahasiswa Psikologi Mercu Buana Mendapat Training Gratis dari ACI

Kebutuhan akan praktek penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Indonesia, selain dukungan perundang-undangan, kelembagaan sekolah inklusi serta penerimaan orang tua & masyarakat terhadap ABK, mereka juga harus ditangani oleh tenaga pendidik khusus dan tenaga penunjang profesional yang jumlahnya memadai, dengan kualifikasi dan kompetensi yang baik dalam memberikan terapi dan pengajaran terbaik kepada ABK.

Minimnya tenaga pendidik menjadi masalah serius dalam penanganan ABK, sehingga pada tataran operasional sering kali dijumpai para orang tua, lembaga pendidikan inklusi, lembaga terapi kesulitan mendapatkan terapis/tenaga pendidik yang dibutuhkan. Dampak lain yang timbul akibat terbatasnya SDM adalah tingginya biaya treatment /penanganan untuk anak autistik, keterbatasan sekolah reguler yang menyelenggarakan pendidikan inklusi karena minimnya Guru Pendamping Khusus (GPK).

Rabu, 19 Mei 2010

Kabupaten Semarang Rintis Empat Sekolah Inklusif

Ungaran, CyberNews. Empat sekolah di Kabupaten Semarang tengah mempersiapkan diri menjadi rintisan sekolah inklusif. Berdasarkan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif, keempatnya mungkinkan menjadi sekolah inklusif pada tahun ajaran 2010/2011.

Kasi SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang Ari Susilo menyatakan saat ini keempat sekolah yang terdiri atas dua SD dan SMP mendata jumlah murid untuk didaftarkan sebagai peserta didik program tersebut. “Sekolah yang menjadi rintisan sekolah inklusif yaitu SD Bonomerto 02, SD Klero 02, SMPN 1 Tuntang, dan SMPN1 Bringin. Setelah semua murid istimewa di sekolahnya didata, proposal akan kami kirimkan ke Provinsi,” katanya, Selasa (18/5).

Rabu, 12 Mei 2010

BKB PAUD Bayam Mendapatkan Penyuluhan ABK Gratis dari YCHI


Siang tadi, nampak BKB Paud Bayam yang berlokasi di Kelurahan Pondok Pinang sangat ramai sekali. Kenapa tidak, di siang itu tidak kurang dari 40 orang tua anak dan Ibu-ibu rumah tangga lingkungan sekitar berkumpul di Aula BKB Paud Bayam untuk mengikuti kegiatan Penyuluhan Pengenalan & penanganan Anak berkebutuhan Khusus ABK) yang diselenggarakan oleh Autism Care Indonesia.

Penyuluhan yang dimulai pukul 08.30-10.00 ini, bertujuan selain untuk mengenalkan keberadaan klinik Center Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI), tujuan utamanya adalah memberikan pengertian yang benar kepada masyarakat terutama para ibu-ibu untuk mengetahui lebih mendalam tentang macam-macam ABK, bagaimana pencegahan dan bagaimana model penanganannya.

Senin, 10 Mei 2010

Dilema Anak Autis

Jakarta, Angka kejadian autisme di Indonesia terus meningkat dan sudah mengkhawatirkan. Tapi hingga kini permasalahan anak autis masih sangat rumit dan menjadi dilema bagi penyandangnya. Anak-anak yang memiliki gejala autis sudah ada sejak zaman dahulu, tapi tak sedikit dari anak-anak ini yang mendapatkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa saja masalah autisme yang ada di Indonesia?

Anak-anak yang memiliki gejala autisme sudah ada di Indonesia sekitar tahun 1990. Awalnya penyakit ini sering dikira hanya penyakit orang kaya saja, padahal semua orang dari berbagai ras, ekonomi sosial dan tingkatan pendidikan bisa terkena autisme.

Sabtu, 08 Mei 2010

Anak Autis Banyak Lahir dari Orangtua Berpendidikan Tinggi

California, Studi terkini menemukan anak autis banyak dilahirkan dari pasangan yang berpendidikan tinggi dan sudah tua. Peneliti menggunakan data sekitar 2,5 juta kelahiran di California selama 5 tahun.

Dan ternyata ditemukan sekelompok anak autis pada daerah dimana rata-rata penduduknya berpendidikan tinggi. Orang tua anak-anak autis tersebut ternyata kebanyakan berlatar belakang pendidikan lebih tinggi (di atas S1) dibanding orang tua di daerah yang tidak terdapat anak autis.

"Studi ini cocok dengan apa yang kami perkirakan sebelumnya, yaitu pasangan orang tua yang berpendidikan tinggi cenderung menghasilkan anak autis," ujar Karla Van Meter, epidemiolog dari Sonoma County Department of Public Health University of California seperti dilansir Healthday, Rabu (6/1/2010).

Kamis, 04 Maret 2010

Insentif Sekolah Inklusi

Jakarta, Kompas - Pemerintah akan memberikan insentif khusus bagi sekolah umum yang bersedia menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus. Peran sekolah umum perlu karena kebutuhan anak dengan kebutuhan khusus tidak bisa dipenuhi hanya oleh sekolah luar biasa.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengemukakan, insentif khusus itu diharapkan bisa digunakan untuk pemberian pelatihan-pelatihan mengenai cara menangani anak dengan kebutuhan khusus kepada guru-guru. ”Yang harus disadari adalah anak dengan kebutuhan khusus itu bukan hanya tanggung jawab orangtua, melainkan kita,” kata Fasli, Senin (1/3) di Jakarta.

Selasa, 02 Maret 2010

AUTISM WE CARE & LAUNCHING YCHI 1 YEAR



Print
Dalam rangka memperingati hari autisme sedunia yang jatuh pada 2 April mendatang, Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) akan menyelenggarakan kegiatan ”AUTISM WE CARE & LAUNCHING YCHI 1 YEAR.

Kegiatan Autism we Care & Launching YCHI 1 Year adalah program galang kepedulian penanganan anak penyandang autisme dan sosialisasi lembaga YCHI, rangkaian acara yang akan berlangsung :
- LOMBA PENTAS SENI ANAK AUTISM
- SEMINAR ( Masa Depan Pendidikan Inklusi di Indonesia)
- TALKSHOW (Model Pendidikan Inklusi saat Ini)
- SHARE ORANG TUA
- LAUNCHING YCHI
- VOLUNTEER FORUM
- BAZAR DAN PAMERAN

Jumat, 12 Februari 2010

YCHI menerbitkan Buletin seputar Autisme



Print

Minimnya informasi seputar autisme di Indonesia yang murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat menjadi pendorong Tim Manajemen YCHI untuk menerbitkan sebuah media informasi seputar autisme. Informasi seputar autisme saat ini masih terbatas dipublikasikan lewat media internet saja, jadi hanya masyarakat tertentu yang memiliki akses internet saja yang bisa mengakses informasi tentang autisme.

Buletin yang diberi nama Info YCHI ini, rencananya akan diterbitkan YCHI tiap bulan dengan oplah 1000 eksemplar dan akan dibagikan secara gratis kepada pemangku terkait kepentingan penanganan autisme di Indonesia.

Pada edisi perdana ini, 01 Februari 2010 tema yang di angkat adalah TERAPI TERINTEGRASI (Model Penanganan Untuk Anak Berkebutuhan Khusus). Terapi terintegrasi adalah model Intervensi “ala YCHI” dalam memberikan penanganan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Terapi terintegrasi adalah rangkaian yang tidak terpisahkan dari tiga pendekatan yang dilakukan YCHI dalam melakukan penanganan ABK, pendekatan tersebut adalah homebase terapi, terapi “klinik”center dan sekolah inklusi.

Pada edisi ini redaksi juga mengangkat isu tentang pentingnya menjaga akuntabilitas dan profesionalitas lembaga, karena keberlanjutan dan perkembangan lembaga yang bergerak disektor sosial sangat bergantung pada kedua aspek tersebut. Ingin tahu lebih banyak silahkan mendownload buletin YCHI edisi 01 Februari 2010 di jendela web di samping sidebar berikut. Jika anda ingin memiliki setiap edisi buletin YCHI, untuk berlangganan silahkan menghubungi manajemen YCHI. mst

Selasa, 02 Februari 2010

KUNJUNGAN YCHI KE RUMAH AUTIS





Jika diibaratkan anak-anak penyandang autis adalah bagian dari jari telapak tangan, maka tentu saja semuanya harus mendapatkan perawatan dan penanganan yang sama, karena jika ada salah satu jari yang kurang berfungsi maka akan mengakibatkan gangguan dan mengurangi fungsi keseluruhan jari tersebut. Ini sekaligus sebuah jawaban pertanyaan “Kenapa sih menangani anak penyandang autis, padahalkan masih banyak anak-anak lain yang malah justru lebih potensial jika ditangani, seperti anak-anak jalanan, anak putus sekolah, anak-anak normal dari keluarga tidak mampu?”

Pengibaratan tersebut disampaikan oleh M. Nilwansyah, Direktur Eksekutif Rumah Autis, pada saat bincang-bincang dengan Mustain, Eksekutif Manager YCHI, di sela-sela acara silaturrahmi YCHI dengan Rumah Autis, dikantor pusat Rumah Autis Bekasi pada jumat, 29/10/2010.

Acara kunjungan yang dilakukan YCHI ke rumah autis adalah dalam rangka sosialisasi lembaga dan sekaligus penjajakan kerjasama program kerja. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan mengenai rencana kerjasama dalam penyelenggaraan Training Orang Tua secara berkala.

Rumah autis menilai penting adanya training kepada orang tua secara berkala, selain sebagai media edukasi dalam memberikan terapi mandiri, training ini juga dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan orang tua kepada anaknya yang penyandang autis. mst

Kamis, 21 Januari 2010

Makanan Anak Autis

Autisme memang menjadikan anak anda luar biasa dan sekaligus spesial, hal ini bukan saja anak anda patut diberikan perhatian istimewa, melainkan perawatan yang khusus, terutama kebutuhan konsumsinya.

Autisme adalah penyakit yang disebabkan kelainan syaraf yang antara lain mengakibatkan terhambatnya kemampuan komunikasi dan sosialisasi. Biasanya mereka akan memiliki beberapa ciri seperti, sulit berbicara atau tersendat-sendat, sulit memberikan tanggapan atas perkataan orang lain, tidak menoleh kala dipanggil, serta mengacuhkan lingkungan sekitarnya.

Kecenderungan umum lainnya adalah selalu menghindari kontak fisik, sehingga mereka kerap asyik dalam dunia mereka pribadi, dan melakukan sesuatu secara berulang-ulang, Misalnya berputar-putar, memukuli kepala, bertepuk tangan.

Anak-anak autisme biasanya memiliki banyak zat endorphine. Itu sebabnya mereka tahan terhadap rasa sakit karena zat ini menekan rasa sakit. Karena itu anak autisme disarankan tidak menyantap makanan berprotein, terutama gluten dan kasein. Karena penderita tidak dapat mencerna keduanya dengan sempurna. Sementara gluten dan kasein yang tidak tercerna sempurna dapat berfungsi seperti endorphine.

Carilah makanan yang memiliki sumber karbohidrat yang tidak mengandung glutein seperti beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung, beras tapioka, maizena, bihun, serta soun.

Selain itu, hindari mereka untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung glutein, seperti terigu, havermouth, roti, mie, kue-kue, makaroni, spageti, cake dan biskuit.

Utamakan mereka untuk memakan makanan yang mengandung sumber protein tanpa kasein, misalnya daging ,telur ,kerang ,tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

Berilah mereka serat secukupnya dari buah-buahan, tetapi hati-hati, hindari juga memberikan mereka makanan yang mengandung phenol. Seperti tomat, jeruk, pisang, anggur merah, apel, cocoa dan sus

ref. Forum Cek Info

Rabu, 20 Januari 2010

DIY Perketat Izin Pendirian Sekolah Inklusi


Yogyakarta - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan memperketat izin pembukaan sekolah inklusi. Hal ini untuk menjaga kualitas pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Sekolah inklusi adalah institusi pendidikan yang memberikan pengajaran kepada siswa umum dan ABK dalam satu kelas. Sekolah umum yang berminat memberikan layanan pendidikan inklusi harus sudah mempelajari pendidikan luar biasa.

"Izinnya akan kami perketat dengan melihat berbagai hal kesiapan sekolah yang akan menerima siswa ABK, sehingga tidak muncul kesan asal kejar (proyek) saja," kata Kepala Disdikpora Prof Dr Suwarsih Madya usai serah terima Program Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana dari Arbeiter-Samariter Bund (ASB) Jerman di RM Pasific Jl Magelang, Mlati, Sleman, Selasa (12/1/2009).


Menurut Suwarsih, secara umum pendidikan sekolah umum dengan siswa ABK itu berbeda. Cara guru atau staf pengajar dalam metode pengajarannya juga berbeda. Guru yang menangani harus diberi wawasan mengenai ABK. Manajemen sekolah dan orangtua siswa biasa dan ABK juga harus mendukung.


"Kita harus terus melakukan sosialisasi dan penjelasan pada masyarakat. Guru atau pendidiknya juga harus lebih sabar. Tidak semua orangtua maupun siswa yang normal ada yang mau digabungkan dengan orang cacat. Ini memang butuh waktu lama untuk memberikan pemahaman," kata Suwarsih.

Dia menambahkan dari sisi sarana dan prasarana fisik juga berbeda. Bila ada sekolah umum yang menjadi sekolah inklusi menerima siswa ABK maka semua prasarana sekolah juga harus bisa diakses oleh siswa ABK. Misalnya adanya bangunan yang berfungsi sebagai pegangan atau alat untuk turun saat berjalan dan kamar mandi khusus untuk mereka.

"Program ini harus dipikirkan secara matang. Karena itu tidak boleh asal program jalan," kata Suwarsih didampingi Manajer Program Pendidikan ASB-Indonesia, Sae Kani.

Dia mengakui selama beberapa tahun terakhir ini Disdikpora DIY minat untuk mendirikan sekolah inklusi cukup besar. Setidaknya terdapat 168 sekolah inklusi di DIY yang saat ini sudah memberikan layanan kepada siswa ABK. Hampir mayoritas siswa ABK di DIY belum banyak yang mendapat akses pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) di daerahnya.

"Sekolah Luar Biasa juga masih sedikit sekali. Tidak semua orangtua mau menyekolahkan anaknya di sana karena faktor psikologis dan jarak tempat tinggal. Bantuan ASB untuk mendirikan sekolah inklusi dan pendidikan pengurangan risiko bencana bagi anak ABK sangatlah membantu setelah kita mengalami gempa bumi tahun 2006," pungkas dia.

Ref : Bagus Kurniawan - detikNews

Percepatan Sekolah Inklusi Mungkinkah?

Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) mendeklarasikan diri menjadi lembaga non pemerintah yang bergerak dalam bidang penanganan anak-anak berkebutuhan khusus dengan pendekatan terapi di klinik dan di rumah dari kalangan ekonomi kurang mampu. Selain itu YCHI juga melakukan sosialisasi tentang pelaksanaan sekolah inklusi. Sekolah inklusi merupakan pelaksanaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah umum. 

YCHI menawarkan sebuah model pendidikan inklusi yang dapat diterapkan di banyak sekolah. Program yang ditawarkan adalah anak berkebutuhan khusus dapat bersekolah di sekolah umum dengan perbandingan setiap kelas ada satu sampai dua siswa berkebutuhan khusus. Kemudian di setiap sekolah atau beberapa sekolah inklusi dilengkapi dengan guru khusus yang memberi program dukungan untuk guru, siswa dan orang tua. Selain itu orang tua juga mendapatkan program intervensi khusus dari lembaga yang ditunjuk dengan mendapatkan intervensi dari psikolog atau ahli lainnya yang berhubungan dengan masalah yang dialami anak. Dengan intervensi tersebut diharapkan penanganan anak berkebutuhan khusus dapat mencapai mutu sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan bermutu dapat tercapai (UU No. 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 1).

Data Departemen Pendidikan Nasional menyatakan anak tidak bersekolah sebesar 3,2 % untuk usia 7 -12 tahun dan 16,5 % untuk usia 13 - 15 tahun. Saat ini jumlah anak usia 7 - 12 tahun sebesar 23.910.000 orang. Jadi jumlah anak tidak bersekolah sebesar 765.120 anak (RENSTRA Departemen Pendidikan Nasional, 2009). Disinyalir kemungkinan terbesar anak tidak bersekolah adalah faktor ekonomi karena miskin atau anak berkebutuhan khusus. Faktor jarak anak ke sekolah luar biasa yang jauh dari tempat tinggalnya dan masih sedikitnya sekolah luar biasa dimungkinkan bahwa percepatan sekolah inklusi di banyak sekolah adalah salah satu solusinya. 


Jika kepala dinas pendidikan Yogyakarta Prof. Dr. Suwarsih Madya akan memperketat izin pembukaan sekolah inklusi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dapat dimengerti. Namun saat ini anak berkebutuhan khusus banyak yang belum bersekolah. Jadi lebih baik melakukan terobosan dalam mempercepat sekolah inklusi. Meskipun harus mempertimbangkan jangan sampai berkesan asal kejar (proyek) saja. 

Menurut Ketua YCHI Adib Setiawan, M.Psi. menyatakan bahwa sekolah inklusi tidak harus menerima seluruh jenis ABK. Setiap sekolah yang ingin menjadi inklusi dapat memilih beberapa jenis gangguan saja misalnya ; autisme, kesulitan belajar, dan retardasi mental . Sementara itu sekolah yang lainnya dapat memilih gangguan yang berbeda. 

Saat ini penanganan tuna netra, tuna rungu, dan beberapa gangguan lain sudah terakomodasi di SLB. Namun tampaknya anak gangguan autisme belum terakomodasi di SLB. Terutama mereka yang mengalami autis high function. Sayang jika anak tersebut tidak bersekolah hanya karena ketidaktahuan orang tua atau belum siapnya lembaga pendidikan. Beberapa sekolah juga dapat dilakukan peninjauan sesuai dengan karakteristik sekolah apakah sekolah yang bersangkutan layak menjadi sekolah inklusi dengan tipe gangguan tertentu.
 
Powered by Blogger